Skip to main content

Posts

Showing posts with the label kuliahbunsayiip

Boneka Pun Menjadi Bayi

Perasaan excited akan adanya adik baru diantara kedua Teteh, menjadikan mereka sering sekali bermain peran. Dalam perannya Teteh seringkali menjadi ibu. Membopong boneka dalam pangkuannya. Gendongan adiknya Ia gunakan sebagai gendongan boneka. Boneka pun seringkali di bedongnya. Jika gendongan yang biasa digunakan tak ada maka bedong pun dia sodorkan pada bundanya. Meminta untuk disulap menjadi gendongan. Pikirnya tak berhenti untuk mencoba. Semoga Ia pun tak lelah dan tak bosan untuk mencoba.

Coret Coret Teteh Kedua

Melihat pensil atau pulpen yang tergeletak di sekitarnya menjadi sinyal untuknya untuk bermain main dengannya. Melihat alat tulis tsb serta merta membuatnya menanyakan kertas. Saat kertas sudah ada di depannya Ia pun mulai menggoreskan tinta ke atasnya. Sambil mengoceh Ia terus membuat benang kusut sesuai dengan imajinasinya. Jika Ia ditanyakan tentang apa yang digambarkan olehnya, seringkali Ia menjawab, 'pesawat'. Meski belum tampak dari gambar itu sebuah pesawat. Membiarkannya mengeksplorasi garis dengan pulpen atau pensil membuat imajinasinya berkelana sejauh mungkin. Mengajaknya berkomunikasi membuat kosakatanya bertambah. Entah dari kegiatan yang mana yang pada akhirnya akan melejitkan kreativitasnya dalam menjalani fitrahnya. Hanya bisa mencoba memfasilitasi dan mengawasi perkembangannya.

Bertenda dalam Rumah

Sebuah kelambu telah 'berdiri' di depan kamar. Serta merta kedua anakku masuk kedalamnya. 'Ayo de masuk ke tenda' ujar Teteh. Mereka pun asik bermain di dalamnya. Bergantian mereka masuk dan keluar tenda sembari dengan semangat memanggil bundanya. Memberitahu bahwa mereka berada di dalamnya. Seolah-olah kelambu itu menjadi penghalang pandangan bundanya untuk melihat mereka. Sesekali mereka bermain cilukba. Dengan keterbatasan bahan untuk bermain ternyata memacu mereka menemukan kegiatan yg asyik. Entah keranjang menjadi mobil, atau kursi yg berjejer menjadi kereta. Keasyikan mereka dalam mengeksplor benda di sekitarnya.

Mari Mewarna

Mewarna adalah kegiatan yang nampaknya anak-anak paling tunggu.. Awal Agustus kemarin, mereka yang saat itu sedang kebosanan nampak mencari aktivitas. Anak kedua kami yang lincah tetiba menunjuk ke sudut lemari. Disana teronggok peralatan mewarna. Dengan bersemangat Ia meminta saya mengambilkannya. Biasanya ketika aktivitas mewarna dimulai kertas koran sengaja saya bentangkan untuk mereka. Agar lantai tak menjadi korban kreativitas mereka. Namun saat itu berbeda. Karena tak sabar bermain warna koran tak sempat dibentangkan. Ini bukan kali pertama mereka mewarna. Maka saya pun berasumsi mereka akan mewarna pada kertas yang sudah saya berikan. Namun faktanya tidak demikian. Setelah beberapa waktu saya tinggalkan mereka berkreasi, tampak Teteh mulai mewarna tangannya. Adiknya mewarna pula dengan tangannya. Ditempelkan tangannya pada apa saja yang dia lihat, kertas dan lantai. Tampak pula warna tercampur di wadah cat air. Mereka bahagia berkreasi. Ternyata membiarkan mereka berkreasi tan...

Hayu Naik Kereta

Siang itu di ruang makan rumah eninnya terdengar ramai. Suara kursi digeser serta celoteh anak-anak menggaung. Tak berapa lama kursi telah rapi berjajar dan mereka mulai mengatur siapa dan dimana posisi duduknya. Mereka dengan bersemangat menaikinya dan bernyanyi kereta api. Kreativitasnya siang itu berbekas pada adik pertama Teteh. Ketika Ia di ruang makan dan sedang tak beraktivitas sekonyong konyong Ia menarik kursi sembari berkata 'kereta'. Kreativitas ternyata menular dan mengasikkan.

Keran yang Patah

Rasa ingin tahu dan pikirannya yang imajinati sedang melanda teteh. Melihat double tip yang menganggur membuatnya berpikir untuk menempelnya dan membuat sebuah karya. Lupa apa tepatnya apa yang Ia buat, namun pintu dan dinding dekat mesin penjernih air sudah ia tempeli. Karena kekurang hati-hatiannya Ia tak sengaja menjatuhkan filter kecil yang disimpan tak jauh dari tempat Ia bermain. Alhasil Ia membuat ada kebocoran di ujung selangnya. Pada mulanya saya mengira aksinya hanya merobek bagian selang di ujung kerannya. Namun ternyata bagian kerannya pun ada yg patah. Segera ayahnya saya panggil. Meminta bantuan untuk memperbaiki. Ayahnya mengobservasi masalah untuk beberapa saat. Lalu mulai mengotak atiknya. Saya yang berada di sampingnya sudah tak terlalu banyak berharap. Karena patahannya tampak tak mungkin untuk disambung. Dalam benak saya hanya ada pikiran perlu mengganti keran. Berbeda dengan ayahnya yang masih mencoba mengotak atik. Setelah beberapa saat akhirnya Ia meminta karet....

Memfoto Objek

Salah satu kegemaran teteh adalah menggunakan kamera di hp ayah bundanya. Bukan untuk narsis atau foto selfie, namun memfoto objek yang ada di sekitarnya. Foto yang ada di bawah adalah salah satu hasil karyanya di pekan ini. Ia sengaja menyusun objeknya diantara bantal. Jika diperhatikan boneka ini memiliki warna yg tak sama antara bagian atas dan bawah. Rupanya Ia ingin mencoba mengkombinasikan warna. Oya, ada cerita unik tentang boneka ini. Ini boneka matroska, jadi ada boneka dengan ukuran lebih kecil lagi di dalamnya. Nah teteh, adiknya serta sepupunya menybut boneka yg kecil dengan sebutan bayi. Entah siapa yang memulai. Ternyata memang anak itu terlahir kreatif ya..

Mobil dari Keranjang Cucian

'Bundaaa, dede pipis' ujarnya hari itu. Saya yang sedang berada di kamar pun menghampirinya. Saya dapati Ia sedang memegang keranjang cucian dan adiknya berada di dalamnya. Rupanya mereka baru saja bermain mobil-mobilan. Ia menempatkan adiknya di keranjang cucian lalu mendorongnya. Tentu saja adiknya senang. Namun kegiatan itu terhenti setelah Ia tahu adiknya mengompol. Akhirnya setelah dibersihkan dari ompol, keranjang itu saya kembalikan ke tempatnya.

Kreasi Roti

Sore kemarin Ayah baru saja membeli roti tawar 2 bungkus. Persedian cemilan untuk beberapa hari ke depan. Selain roti Ayah pun membeli selai coklat untuk isian roti. Teteh yang sudah 4,5 tahun rupanya enggan untuk menunggu ayah bundanya mengoles selai ke roti. Ia dengan semangat mengoles selai ke roti. Karena tak merata bunda sengaja melipat dua rotinya lalu berujar, 'asyik kupu-kupu' sambil memperlihatkan kepada teteh bentuk olesan selai yang menyerupai kupu-kupu. Rupanya hal itu membuatnya semakin bersemangat untuk mengoles dan melipat rotinya. Ia pun mendapatkan banyak bentuk dari olesan selai. Di gambar ini menurutnya olesan selainya menyerupai orang. Ternyata kreatif itu tak perlu bahan yang mahal ya. Dari bahan sederhana pun dapat tercetus ide kreatif dan imajinatif

Bermain Bersama Adik

Mempunyai saudara berarti mendapatkan teman main sekaligus teman bersaing. Selain bercanda seringkali mereka berdebat. Membuat rumah kian berwarna. Terlebih ketika aksi kreativitasnya membuat mereka semakin dekat dan tertawa bersama. Pagi itu tetiba Teteh menghampiri sy, 'Bun, dede boleh ya naik kesana. Mau diperiksa.' Rupanya mereka sedang bermain dokter dokteran dengan ruang periksa di area lemari tv. Sy pun hanya pasrah sambil menitipkan pesan agar berhati-hati. Dalam hati sy terheran heran atas kreatifnya Teteh mencari ruang praktek. Membiarkan mereka bermain sesuai keinginannya memang tak selamanya mudah. Adakalanya main versi mereka mengundang detak jantung yang tak karuan. Alhasil pengawasan tak boleh lepas.

Anakku dan Flashcard

Bismillahirrahmaanirrahiim Flashcard dengan segala macam warna dan gambar biasanya akan sangat mudah menarik perhatian anak kecil. Namun rasanya yang terjadi pada anakku tak begitu kentara perhatiannya. Ia hanya memandanginya beberapa saat lalu kembalu ke aktivitas mainnya. Entah bersepeda berlarian maupun yang lainnya. Entah masalah pada fokus yang rentangnya masih sangat pendek entah ia memang kurang cocok dengan metode belajar menggunakan flashcard. Metode yang menitikberatkan pada gaya belajar visual. Flashcard yang dipunya akhirnya masih teronggok di rak penyimpanannya. Entah tak begitu suka visualisasi entah dia punya ingatan fotografis(?). Jelasnya seringkali Ia hanya melirik gambar sekali lalu mendengarkan Bundanya berkata sambil Ia meneruskan aktivitas mainnya. Atau menyerocos bercerita segala yang ada dalam pikirnya. Apapun Ia ceritakan, bahkan cerita yang sudah Ia alami beberapa hari, pekan atau bulan sebelumnya. Mengenalkannya huruf dan angka menjadi tantangan baru b...

Bagaimana Anakku Belajar

Bismillahirrahmanirrahiim Mengamati gerak-gerik dan tingkah laku Teteh tak lagi seleluasa dulu saat Ia masih anak tunggal. Sejak 16 bulan yang lalu perhatian padanya mulai terbagi dengan adiknya. Mendapat tantangan mengetahui gaya belajar anak saat ini lalu menjadi sebuah tantangan yang luar biasa. Betapa tidak memori-memori gaya belajarnya masih memori-memori gaya belajarnya terdahulu. Ketika Ia masih tunggal. Tak banyak berubah memang. Ia yang dulu mencerna yang dikatakan Bundanya dengan tetap berlari kesana kemari, beraktivitas. Ia tetap saja Teteh yang senang dibacakan cerita meski Ia asyik beraktivitas, meski matanya melihat kesana kemari. Rasanya type auditorinya lebih dominan. Berulangkali Ia meminta dibacakan buku yang sama. Meski Ia lalu memotong cerita bundanya ketika mulai berpindah halaman, melanjutkannya. Lanjutan ceritanya tepat. Nampaknya telinganya lebih peka dan informasinya mudah untuk Ia cerna. Auditori detect. Memori-memori gaya belajar Ia saat kini belum...

Detektif Gaya Belajar Anak

Bismillahirrahmanirrahiim Gaya belajar adalah cara seorang individu dalam memenuhi rasa ingin tahunya. Ada tiga modalitas gaya belajar yang umum dikenal masyarakat. Ketiganya yaitu, auditori, visual dan kinestetik. Mengenal gaya belajar anak menjadi batu pijakan yang baik untuk mulai mengajari anak agar muncul 4 hal berikut, intellectual curiosity (rasa ingin tahu), creative imagination (daya imajinasi dan kreasinya), art of discovery and invention (seni gairah menemukan sesuatu) dan noble attitude (akhlak mulia). Di Ibu Profesional keempatnya sering disingkat dengan I CAN. Mengamati gaya belajar anak berarti mengamati tanpa henti tingkah kesehariannya. Karena seiring dengan perjalanan waktu gaya belajar anak bisa saja 'berevolusi'. Gaya belajarnya berevolusi sesuai dengan informasi-informasi yang ia dapat dan berkesan baginya. Pada mulanya ketika Teteh mulai lancar berkomunikasi dua arah (saat usia sekitar 2 tahun), saya amati Ia cenderung auditori. Ia bisa menyerap dengan ...

Ada Apa dengan Memotong Tempe?

Bismillahirrahmaanirrahiim.. Lagi-lagi masak. Nampaknya Teteh punya kesan tersendiri dengan memasak. Dulu saat umurnya belum genap 2 taun Ia sudah takjub dengan 'magic' dari pisau yang bisa memotong bahan makanan. Olehkarenanya, bundanya akhirnya merelakan Ia ikut memotong sayur tapi menggunakan sendok. Alhasil untuk mengimbangi kemampuan sendok dalam memotong, Teteh hanya boleh memotong bahan makanan yang cenderung lunak seperti tahu atau tempe.  Berhubung umurnya sekarang sudah hampir 4 tahun, hari ini saya izinkan Ia memotong menggunakan pisau. Selain melatih motoriknya, Ia pun belajar untuk fokus dan berhati-hati agar tak melukai tangannya.  Selain latihan motorik dan fokusnya Teteh, Bunda pun ikut latihan. Latihan mengelola emosi. Latihan menerima ketidakteraturan bentuk dan ukuran tempe yang dipotong. Meski beda ukurannya tapi hasilnya rapi. (lurus) loh. Ternyata sense spasialnya (bener ga ya?) bagus.. Sedikit cerita tentang aktivitas memotong tempe. Teteh k...

Rasa tentang Komunikasi

Komunikasi menjembatani dua atau lebih pikiran yang ada. Menjadikannya terhubung dan tanpa prasangka. Melalui tantangan 10 hari memberikan pengalaman tersendiri. Dan itu menyenangkan, meski menantang. 10 hari memang waktu yang sempit untuk pembiasaan berkomunikasi produktif. Namun 10 hari ini menjadi candu. Membiarkan alam pikir kita terus memproses tentang apa yang seharusnya dilakukan. Dan itu baik bukan? Tingkah yang beragam pada anak-anak menjadikan emosi seringkali lebih dulu berbicara bukan merasa. Pembiasaan 10 hari yang mencandu itu seolah menjadi gerbang atas emosi. Meski tak selalu berhasil setidaknya ini awalan atas candu akan komunikasi produktif. Dan pada akhirnya lawan bicara kita pun merasakan bahwa mereka dihargai.

Dihitung Sampai Berapa

Bismillahirrahmaanirrahiim Menghitung dalam beberapa hitungan menjadi salah satu pilihan Teteh untuk segera menyelesaikan apa yang sedang dikerjakannya. Hal ini sering saya pilih ketika Ia berlama-lama mandi atau bermain. Padahal saat itu waktunya mepet untuk pergi misal. Cara ini saya rasa cukup efektif. Ketika saya sedang sibuk, dan Teteh butuh bantuan Ia pun kadang melakukan hal yang sama, "Bunda dihitung sampai berapa?"  ucapnya. Begitu yang Ia lakukan kemarin ketika Ia meminta bantuan untuk membantunya cebok. Saya yang masih menidurkan adiknya pada awalnya memintanya cebok sendiri, kemudian memintanya bersabar. Ketika ia bertanya dihitung sampai berapa, saya jawab 200. Tak disangka ia berhitung berurutan sampai 10 lalu meloncat dan mengatakan 200. Dan saat itu adiknya sudah tertidur. Luarbiasa. Hehe #tantangan10hari #day15

Melabeli dan Menghakimi

Bismillahirrahmanirrahiim Bertambah umur tak selalu menjadikan pertambahan kedewasaan. Merasa sudah dewasa justru sering menjadi boomerang. Seringkali ketika telah merasa dewasa, merasa memiliki lebih banyak pengalaman. Ketika ini terjadi, maka seringkali apa yang kita lihat kita simpulkan berdasarkan apa yang telah kita alami. Padahal kesimpulan itu ternyata salah. Alhasil, anak menjadi enggan berkarya atau berkomunikasi. Pagi ini, seperti biasa Teteh nenghampiri neneknya untuk meminta jajan. Neneknya menyanggupi dan mengajaknya ke kantin. Tiba-tiba Ia kembali dengan dua bungkusan, "Bunda, buka" ucap Teteh. Saya pun mengambil bungkusan jajanannya. Tanpa pertanyaan tiba-tiba Ia berkata, "Bunda, ini ada tanda halalnya." Saya bersyukur Ia masih ingat terkait obrolan tentang makanan dan minuman halal tempo lalu. Saya tersenyum sambil memperhatikan bungkusnya, "o iya ada." saya pun membukanya. Ia girang. Jika saja tak ingat tentang komunikasi produktif, mu...

Ternyata Teteh Bisa

Bismillahirrahmanirrahiim Tantangan komunikasi produktif beberapa hari terakhir membuat saya berusaha melihat Si Sulung dengan perspektif yang lebih berwarna. Banyak fakta tentang komunikasi kian terkuak. Hari ini, setelah usaha memperbaiki pola komunikasi dengan Si Sulung, terasa Ia mulai bisa bermain dengan adiknya lebih baik dan akur. Ia beberapa kali mulai bisa mengalah pada adiknya meski beberapa kali pula Ia tak mau kalah. Siang tadi ketika kantuk menyergap, Teteh asyik bermain dengan adiknya. Tetiba Teteh ingin menggendong adiknya menggunakan gendongan sling, "Bunda, dedenya masukkan ke gendongan. Mau Teteh gendong" Mimiknya serius, gendongan sudah diselendangkan di badannya. "Teh, dede berat" ujar saya. "Nggak apa-apa. Teteh bisa." ujarnya. "Boneka teteh mana? Gendong boneka aja ya. Kalau gendong dede, dedenya bisa jatuh karena berat, teteh ikut jatuh." "O. Boneka mana ya? Kasian nangis." "Iya. Tuh bonekanya kasian na...

Fokus Padaku, Bunda..

Bismillahirrahmanirrahiim Anak adalah ujian. Adaaa saja tingkahnya yang membuat emosi Bundanya di ubun-ubun. Melarang ini dan itu seringkali berakhir dengan keacuhan anak. Mungkin larangan malah dijadikan ajang caper si anak. Hari ke12 mempraktekkan komunikasi produktif menjadikan saya jadi lebih aware terhadap kalimat larangan. Berfokus pada apa yang diinginkan katanya. Karena seringkali kalimat larangan malah menggiring tubuh merespon untuk mengerjakannya. Hari ini, Si Sulung memainkan mainannya tanpa membereskan. Alhasil kamar bak kapal pecah. Awalnya saya tergerak untuk membereskan. Namun langkah saya terhenti, teringat jika saya langsung membereskan apa yang akan dipelajari anak? Bahwa akan ada yang selalu membereskan? Saya pun membiarkan sementara, menunggu Sulung kembali ke kamar. Lalu saya katakan padanya, "Teh, bereskan mainannya yuk. Berantakan" Ia menggeleng, "nggak mau". Saya tak menyerah. Sambil memegang bahunya saya katakan padanya, "Yuk beresk...

Bermain Bersama

Bismillahirrahmanirrahiim Pagi tadi, sepupu-sepupu Teteh berencana untuk berenang. Meski belum bisa berenang, Teteh senang sekali diajak sepupunya. Alhasil agar gol berenang, Ia dan sepupunya mulai melakukan jurus meminta pamannya untuk mendampingi. Maklum saat itu hanya pamannya saja yang ada dan jago berenang. Beberapa saat sebelum berangkat Ia meminta saya meniupkan ban renang untuknya. Sekitar satu jam mereka berenang lalu secara bergantian mereka mulai membersihkan diri. Awalnya Teteh terlihat akan mandi sendiri, namun setelah kostumnya dibuka Ia malah memanggil Bundanya. "Bunda, mau dimandiin bunda." Karena tak ada perjanjian sebelumnya saya akhirnya menghampiri dan memandikannya. Biasanya jika sudah membuat komitmen di awal, Ia akan mengikuti komitmen untuk mandi sendiri, misalnya. Selepas mandi, Ia sumringah, saya penasaran ada cerita apa yang ingin dia bagi lalu saya bertanya, "berenangnya rame Teh?" Ia pun menjawab, "rame Bunda. Tapi tadi Teteh dil...