Skip to main content

Posts

Showing posts with the label KuliahBunsay

Aqil Balig

Dalam hukum islam aqil balig berarti sampainya seseorang pada tahap kedewasaan. Sedangkan secara biologi, aqil balig yaitu masa pubertas yang ditandai dengan alat muncul. Konsekuensi atas aqil balig adalah adanya kewajiban beribadah dan sudah diberikan hak dan kewajiban muamalat sebagai orang dewasa. Persiapan orangtua agar anak siap menghadapi aqil baligh, pertama menanamkan iman sejak dini. Kedua menyiapkan pola pikir anak. Ketiga mengajak anak berdialog mengenai konsep hidup seorang muslim. Keempat, memberikan kepercayaan agar tumbuh tanggung jawab. Kelima, mengajarkan kemandirian. Keenam, mengajarkan tentang baligh dan taklif beserta tanda-tandanya. Peran ayah dan ibu dalam mempersiapkan anak aqil baligh adalah 1. Menyamakan tujuan pengasuhan anak 2. Menjadi teladan dan pendidik 3. Menjadi observer 4. Menjadi pendamping 5. Membantu anak membangun karakter leadershipnya 6. Menyiapkan anak menjadi pribadi mandiri dalam tiap aspek 7. Menyiapkan anak menjadi orangtua yang mand...

Mengenal Fitrah Seksualitas

Fitrah seksualitas dapat dikatakan sebagai karakter bawaan setiap insan mengenai gender dan seksualitasnya. Ianya mendorong maskulinitas pada laki-laki dan feminitas pada perempuan untuk lebih mendominasi. Namun Ianya dapat dirusak oleh pembiasaan pembiasaan sejak kecil. Pembiasaan yang salah dapat menyebabkan penyimpangan seksual. Bias gender dan free sex adalah contohnya. Fitrah seksualitas sebuah generasi berkolasi dengan peradaban. Maka, untuk merusak peradaban sebuah bangsa fitrah ini perlu dirusak. Cara termudah merusaknya adalah lewat mata. Anak bangsa dibombardir oleh banyaknya tayangan dan informasi yang tak sesuai. Benteng pertahanan terakhir anak bangsa tentu saja dirinya sendiri. Namun, Ianya tak bisa berdiri sendiri. Perlu dekapan dan bimbingan keluarganya agar mantap. Perlu dasar yang mengakar agar tak tergoyahkan. Ambillah dasar pertahanannya dari sumber hukum yang tak pernah usang, Al Quran dan Hadits. Dekatkan anak bangsa pada norma agama, pada teladan mulia. Maka ke...

Bersahabat dengan Seksualitas

Mayoritas orangtua merasa membicarakan pendidikan seksual pada anak secara langsung adalah tabo. Orangtua merasa sekolahlah yangbperlu mengambil peran ini. Padahal pendidikan pertama dan utama adalah bersama orangtua di rumah. Tidak adanya peran orangtua dalam memberikan pendidikan seksualitas di rumah rentan menjadikan anak mengalami penyimpangan seksualitas. Hal ini dapat terjadi karena anak mencari tahu sendiri dan rentan mendapatkan info yang salah. Apa yang dapat orangtua lakukan dalam memberikan pendidikan seksualitas pada anak. Beberapa hal ini dapat menjadi perhatian para orangtua 1. Membekali anak dengan kesehatan dan fungsi organ-organ reproduksi agar anak tidak mencari tahu sendiri dan mengakibatkannya melakukan tindakan seksualitas tanpa sadar konsekuensinya. 2. Lindungi anak saat berada di masa kritis (pre aqil baligh) 3. Keterbukaan dan kejujuran orangtua pada anak. Hal ini menunjukan baiknya komunikasi dengan anak. Sehingga orangtua akan menjadi orang pertama tempat...

Fase Kematangan Seksualitas

Fase kematangan seksual terbagi 5, yaitu a. Fase Oral adalah fase ketika mulut menjadi pusat kepuasan b. Fase Anal adalah fase saat anak menikmati saat mengeluarkan bab. c. Fase Phalic adalah ketika anak mulai menaruh perhatian pada alat kelaminnha d. Fase Latent adalah fase tenang ketika anak tidak terfokus pada tubuhnya e. Fase Genital terjadi ketika anak masuk masa pubertas Pada fase oraal, tahap perkembangan area oromotor (otot daerah mulut dan pencernaan) memengaruhi perkembangan lainnya seperti berbicara dan makan. Pada fase ini bayi memusatkan stimulus pada daerah mulut dan bibir. Ia akan berusaha memasukkan semua benda yang dipegangnya ke dalam mulut karena menganggap mulut adalah tempat pemuasan kebutuhannya (oral gratification). Fase oral merupakan tahap pertama perkembangan psikoseksual yang pasti dilalui setiap orang. Umumnya fase oral dimulai sejak anak lahir hingga usia sekitar 18 bulan. Pada beberapa kasus, fase oral berlanjut hingga usia balita, misalnya dengan me...

Peran Ayah dalam Pendidikan Fitrah Seksualitas

Absennya sosok orangtua terutama ayah dalam kehidupan anak-anaknya menjadi salahsatu sumber permasalahan seksual. Ketidakhadiran ini menyebabkan virus BLAST (Bored, Lonely, Angry/Anxious, Stressfull dan Tired) menyerang. Sehingga untuk mengatasinya Ia akan mencari kasih sayang dan hiburan diluar keluarganya. Dampak dari tidak hadirna ayah: 1. Anak perempuan umur 10-14 yang tidak dekat dengan ayahnya berpeluang memberikan tubuh dan kehormatannya untuk laki-laki lain 2. Dampak perilaku seksual pada anak perempuan dibandikan pada anak laki-lak lebih besar 3. Memiliki pengaruh negatif pada psiko seksual anak perempuan. Hubungan yang tidak tepat dapat menyebabkan anak perempuan tomboy atau lesbian 4. Umur awal anak perempuan mendapatkan menstruasi menjadi lebih cepat 5. Menentukan kualitas hubungan anak perempuan dan suaminya kelak 6. Perempuan usia 15-19 tahun yang tak memiliki sosok ayahbdalam kehidupannya cenderung lebih cepat memulai aktivitas seksualnya, memiliki pasangan seksua...

Mempersiapkan Anak Menuju Akil Baligh

Menurut Ensiklopedi Hukum Islam akil baligh berasal dari bahasa arab akala yang artimya berakal dan balagha yang artinya sampai. Akil balig adalah usia dimana seseorang telah dibebani hukum syariat (taklif), mampu mengetahui atau mengerti hukum tersebut. Seseorang yang disebut akil balig ialah orang yang sehat dan sempurna pikirannya, dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah, mengetahui kewajiban yang dibolehkan dan dilarang, serta yang bermanfaat dan merusak (Alim, 2010). Menjelang aqil balig, pendidikan seks diperlukan. Pada masa ini pendidikan seks dibutuhkan agar, 1. Remaja mengetahui organ reproduksinya 2. Mengetahui tentang seks sehingga memahami perilaku seks yang beresiko. 3. Mencegah dampak negatif dari perilaku seks 4. Menjadi bekal anak dalam mengendalikan dorongan seks sesuai kaidah islam. 5. Menjadi bekal anak ketika menikah kelak. Kedua gender memerlukan sisi maskulinitas dan femininitas. Namun demikian persentasenya berbeda. Anak laki-laki perlu 75% suplai...

Ayah dan Bunda sebagai Pendidik Fitrah Seksualitas Anak

Mengapa Ayah dan Bunda berperan dalam mendidik fitrah seksualitas anak? Hal ini dijelaskan oleh dua dalil naqli berikut: ‘Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.’ (QS An Nisa:9) “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang dilahirkan apakah kalian melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya?” (HR. Bukhori) Untuk menjadi generasi yang kuat diperlukan mental dan pengetahuan yang kuat. Hal ini dapat dilakukan dengan membangkitkan fitrah yang sudah diberikan Allah, salah satunya fitrah seksualitas. Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seorang lelaki berfikir, bersikap, bertindak sebagaimana lelaki. Juga bagaimana se...

Resume Materi Fitrah Seksualitas by Kelompok 4

Kasus LGBT di asrama tak lagi mengherankan. Pada studi kasus yang disampaikan kelompok 4, latar belakang kedua pelaku LGBT ternyata berasal dari keluarga yang sibuk dengan urusan keekonomian. Karakter keduanya yang saling melengkapi membuat rasa kesepian yang dirasa menjadi terobati. Dan akhirnya mereka memainkan peran laki-laki dan perempuan padahal keduanya bergender sama. Kemudahan akses internet membuat mereka mudah mengakses video klip video klip bahkan film porno. Dan akhirnya mereka melakukan hal yang tak seharusnya. Pemanggilan kedua orangtua pelaku justru malah makin membuat ricuh. Orangtua keduanya saling menyalahkan pihak lainnya. Dari penggalan kisah ini dapat dilihat adanya kekosongan peran orangtuanya dalam mendidik anak. Hal lain yang bisa menjadi penyebab kasus ini, bila mengacu pada paparan Ibu Elly Risman, S.Psi pada Judicial Review UU Zina, Pornografi dan LGBT adalah sebagai berikut: 1. Pola Pengasuhan yang kurang tepat 2. Tidak hadirnya sosok ayah dalam proses pe...

Tantangan Fitrah Seksualitas di Era Digit

Perkembang pesat dalam teknologi informasi menyebabkan anak-anak mencari tahu mengenai pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi secara online. Padahal tidak semua yang tercantum secara online adalah benar. Terlebih seringkali informasi yang didapat mengarahkan pada pornografi. Berdasarkan survey yang dilakukan Youth Tech Health, yang dikutip di situs tirto.id, sekitar 42% responden setuju internet adalah tempat yang efektif untuk belajar mengenai seks, seksualitas dan kesehatan reproduksi. Sekitar 60% responden agak puas dan percaya atas informasi yang didapatkan secara online tersebut. Pengguna internet di Indonesia di dominasi oleh pria (51,43%). Jika didasarkan pada usia, pengguna internet terbanyak ada pada rentang usia 19-34 (49,52%) dengan penetrasi terbesar pada usia 13-18 tahun (75,50 %) yang merupakan puncak usia fitrah. Kemudahan akses, malu bertanya mengenai pendidikan seks, serta tidak adanya informasi yang diberikan orangtua menjadi alasan anak dan remaja menggun...

Fitrah Seksualitas dalam Islam

Landasan fitrah seksualitas dalam Islam diantaranya terdapat pada QS Ar-Rum:21 dan QS An Nisa:34. Dalam QS Ar Rum:21 dijelaskan mengenai penciptaan yang berpasang-pasangan. Sedangkan pada QS An Nisa:34 dijelaskan mengenai peran masing-masing gender. Dalam Islam, setidaknya terdapat 11 pendidikan seksualitas, yaitu: 1. Menanamkan rasa malu pada anak 2. Menanamkan jiwa maskulin pada laki-laki dan jiwa feminim pada perempuan 3. Memisahkan tempat tidur 4. Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu) 5. Mendidik menjaga kebersihan alat kelamin 6. Mengenalkan mahramnya 7. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan matanya 8. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilat 9. Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat (pacaran) 10. Mendidik etika berhias 11. Mengenalkan ikhtilam (mimpi basah) dan haid Sebagai pembanding mengenai pendidikan seksualitas. Dipaparkan mengenai pendidikan seksualitas di beberapa negara. Indonesia menjadi negara yang belum memasukkan pendidika...

Seks, gender dan fitrah seksualitas

Resume atas materi presentasi kelompok bunda sayang 1. Seks lebih pada sifat biologis pria/wanita, gender lebih pada sifat sosial pada pria/wanita sedang fitrah seksualitas adalah menempatkan cara berpikir merasa dan bersikap sesuai identitas gendernya. Fitrah seksualitas perlu dibangkitkan agar anak mengerti identitas seksualitasnya, mengenali peran seksualitasnya, serta dapat melindungi dirinya dari kejahatan seksual. Dalam perjalanan pemahamannya, terdapat beberapa tantangan gender, yaitu: 1. Peterpan syndrom: seorang laki-laki dewasa yang tidak memiliki kematangan sikap. 2. Cinderella complex: seorang perempuan dewasa yang memiliki ketakutam tersendiri untuk dewasa 3. LGBT 4. Pelecehan Seksual 5. Pacaran Untuk mengatasi tantangan tersebut perlu paham fase dan tahapan seksualitas. Fase seksualitas meliputi a. Fase Oral, biasanya berlangsung di usia 0-2 tahun, berupa kenikmatan menghisap puting susu ibu. b. Fase Anal, berlangsung di usia 2-4 tahun, berupa kenikmatan mengel...

Permenku Ditambah Satu

Konsep tambah dalam matematika sangat mudah sekali ditemukan dalam dunia nyata. Contohnya ketika Teteh memakan coklat kesukaannya lalu bunda menyodorkannya lagi coklat sejenis dan memintanya untuk menghitung jumlahnya setelah ditambah. Meski tak lantas paham Ia akhirnya bisa mencernanya secara perlahan. #day10

Sisa Berapa?

Hari itu Teteh membeli jajan. Saat di warung Ia membeli bukan hanya untuk dirinya namun pula untuk adik, ayah dan bundanya. Ketika sampai di rumah Ia mulai membagikan jajanan itu. Pertama-tama Ia membagikan untuk adiknya. Lalu saya iseng bertanya, 'Sisa berapa lagi sekarang?' Setelah terdiam dan menghitung sebentar Ia pun berkata 'Tiga'. Lalu Ia melanjutkan berbagi lagi, dan saya kembali menanyakan sisanya sampai akhirnya semua jajanan terbagi. Matematika sebenarnya bisa dibuat menyenangkan ya. #day9

Bacakan Untukku

Belum bisa membaca tak membuatnya berhenti untuk terus membuka buku. Setiap hari, dengan semangat, ia menjinjing buku yang ingin dibacanya. Ia pun menyodorkannya padaku untuk dibacakan. Ketika bundanya sedang sibuk maka jurus negosiasi Ia keluarkan. Meminta dibacakan sejumlah judul /buku. Seringkali Ia sadar dengan hitungan jumlah buku yang sudah dibacakan namun tak jarang Ia pun tak menggubris kesepakatan itu. Nampaknya jika sudah demikian hanya tinggal pembiasaan untuk membuatnya paham. #day8

Bunda, Mau yang Satunya

Berbagi menjadi hal yanh terus menerus dibiasakan. Meski sesekali penuh tantangan. Entah kakaknya entah adiknya. Berbagi erat kaitannya dengan konsep adil. Entah sejak kapan pemahaman tentang adil pada akhirnya adalah tak selalu sama. Porsi kakak tak selalu sama dengan adik. Porsi ayah tak selalu sama dengan bunda. Karena kebutuhan tiap individu berbeda. Dan adil adalah menempatkan kebutuhan dan ketersediaan secara proporsional. Akhirnya, ketika Teteh bersikukuh dengan memilih jumlah yang banyak ketika berbagi makanan tak lantas ditolak. Karena kebutuhan akan energinya mungkin lebih banyak dari adiknya. Seperti ketika saya membagi makanan kesukaannya. Atau ketika saya meminta Ia berbagi dengan adiknya. Ia dengan mantap akan berkata 'Bunda, mau yang banyak.' Ketika Ia menyangka jumlah yang berada di adiknya lebih banyak maka Ia akan meminta bagian yang lebih banyak. Seringkali akhirnya saya memintanya untuk membandingkan langsung mana yang lebih banyak miliknya atau milik adik...

Balon Udara

Siapa yang tak suka melihat balon besar warna warni melayang di angkasa? Sepertinya tak ada seorang anak pun yang tak suka melihatnya. Begitupun Teteh. Ia begitu sumringah ketika kami melalui suatu kawasan penuh balon udara. Bahkan Ia bersikukuh ingin memilikinya. Ketertarikannya pada balon menjadi kesempatan bagi saya menyisipkan lagi pengenalan angka. 'Teh, coba hitung berapa balon udaranya?' Mendengar instruksi tersebut membuatnya lalu menunjuk-nunjuk balon udara sambil komat kamit menghitung. 'Ada 5 bunda,' jawabnya masih dengan wajah sumringah. Semoga dengan ala ini Ia jadi senang bermatematika. Karena matematika itu sebenarnya menyenangkan. :p #day6

Belanja Cemilan

'Bunda, dede mau macaroni seperti yang teteh beli,' kata Teteh ketika sadar adiknya masih meminta cemilan itu. Padahal cemilan itu telah habis dikonsumsi. 'Yaudah beli lagi 2 ya? Bunda juga mau :p.' Ia pun beranjak dari tempatnya tak lupa ia meminta uang untuk membelinya. 'Bunda, mana uangnya. Kalau beli dua berarti uangnya harus 2,' ujarnya. Saya hanya tersenyum, 'memang berapa harganya?' '2 ribu bunda.' Saya pun memintanya mengambil uang 5 ribuan di tasnya. 'Ambil yang 5 ribu aja ya. Uang 5 ribu lebih besar dari uang 2 ribu jadi bisa beli lebih banyak.' Ia menurut lalu berbelanja dan kembali dengan membawa kembalian 3 ribu. 'Bunda ini ada kembaliannya.' Saya pun tersenyum. Ia belum paham harga namun sudah paham konsep jumlah, untuk mendapatkan dua barang seharga sama ia harus membawa dua uang ukuran yang sama. Anakku sudah besar ternyata. #day5

Rintik Hujan

Hari ini Teteh menginap di rumah Nenek. Biasanya aktivitas di rumah Nenek lebih beragam. Bermain di mobil Kakek, senam, bersepeda, menggambar atau yang lainnya. Namun hari itu Bunda iseng mencari kegiatan untuk Teteh. Melihat kertas dan pensil bunda punlalu menggambar awan dan rintik rintik hujan dengan jumlah yang berbeda. Tak lupa menuliskan angka-angka di atas kertas. Setelah beres Bunda pun memanggil Teteh, 'Teh, sini lihat.' Teteh menoleh ke Bundanya sambil melihat kertas yang Bunda pegang. 'Coba ini berapa hujannya?' Ia sumringah lalu menghitung jumlah titik hujannya, 'Tiga Bunda,' ucapnya. Bunda pun lanjut bertanya, 'yang mana angkanya?' Dengan bersemangat Ia menunjukkan angka 3 dengan tepat. 'Wah pintar anak Bunda.' Ternyata Teteh sudah Bisa mencocokkan jumlah dan angkanya. #day4

Ketika Teteh Meminta Gadget

'Bunda, mau nonton kelinci,' katanya hari itu. Bundanya tertegun sejenak, mencerna maksud perkataannya. O, maksudnya dokumentasi aktivitas Ia memberi makan kelinci tempo hari. Bunda tak langsung mengangguk hingga Ia mengulang pertanyaannya lagi. Ketika masih terdiam tanda belum sepakat, Ia pun kembali menego, 'nonton 1 aja bunda. Janji deh,' katanya dengan senyumnya yang lebar. Bunda pun akhirnya pasrah mengizinkan lalu memastikannya. Tepat setelah video itu selesai aplikasi pun ditutup dan gadget dikembalikan pada bundanya. Good Job, She knows the number. #day3

De, Mau Susu?

Aktivitas pagi hari yang hampir tak terlewat akhir-akhir ini adalah membuatkan Teteh dan Adik susu kesukaannya. Membuat susu nampaknya menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk teteh. Ketika kotak dan kaleng susus diturunkan Teteh langsung bersorak 'Bunda, biar Teteh yang buat susu untuk Adik. Bunda boleh buat susu untuk Teteh.' Entah apa yang membuatnya berpikir membuat susu untuk adiknya lebih menyenangkan dibandingkan membuat susu untuk dirinya sendiri. Padahal biasanya Ia membuat sendiri susunya. Meski sudah terbiasa membuat susu, Teteh tak pernah absen menanyakan takaran air dan susunya. Memastikan semua sesuai dengan seharusnya. Sambil menakar susu tak lupa Ia lafalkan jumlah takar yang Ia masukkan. Lalu mengaduknya dan memberikan susu tersebut pada Adiknya. Adiknya sumringah. Ia pun senang. Mungkin inilah yang Ia cari ketika Ia membuatkan susu untuk adiknya. Senyum sang adik. #day2