Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Kelasbunsayiip3

Teteh Mengingat Jalan

Bismillaahirrahmaanirrahiim Sejak usianya sekitar 2 tahun Teteh sudah menolak untuk dibonceng di belakang ayahnya (digendong bundany) ketika naik motor. Ia memilih untuk duduk di depan ayahnya. Keinginannya ini membuat kami sepakat membeli kursi bonceng untuknya agar lebih aman dan nyaman. Rupanya kebiasaannya duduk di depan memudahkannya mengingat rute perjalanannya. Suatu kali ketika kami hendak ke rumah neneknya tiba-tiba Ia meminta ayahnya berbelok. Tepat ke belokan rumah neneknya. Ia mungkin bersuara karena menurutnya motor ayahnya akan melewati belokan tersebut. Kami tentu kaget. Untuk mengetesnya ayahnya lalu memintanya menunjukkan jalan ke rumah neneknya. Teteh menjadi petunjuk jalan. Hasilnya Kami berhasil sampai ke rumah nenek tanpa salah berbelok satu kali pun. Ternyata Teteh mampu memvisualisasikan jalan yang Ia sering lewati. #harikesepuluh#tantangan10hari

Ketika Teteh Beraktivitas

Bismillahirrahmaanirrahiim Aktivitas harian Teteh adalah berlari, bermain dengan adiknya, membantu bundanya atau bermain mandiri dengan boneka atau mainannya. Ketika bermain Ia tak luput dari cerita tentang apa yang dikerjakannya saat itu atau menceritakan aktivitas yang serupa di waktu yang lalu. Hari ini dia bermain dengan bonekanya. Sambil menggendong boneka Ia bercerita tentang segala hal. Kadang perasaannya saat itu. Dan ketika saya memperhatikannya dan Ia menyadarinya Ia langsung terlihat malu dan meminta Bundanya tak melihatnya. Kadang saya iseng menggali potongan cerita yang dia ungkapkan. Ketika digali ternyata Ia mampu membuat cerita yang bersambungan dan beralur. Meski awal ceritanya adalah pengalamannya namun ketika digali Ia malah mengembangkan ceritanya kadang hingga tak masuk akal. Daya hayal khas anak-anak. Gayanya bermain biasanya diselipi cerita monolog pada mainannya, entah lego, boneka, mobil ataupun lainnya. #harikesembilan#tantangan10hari

Belajar Bersepeda

Bismillahirrahmaanirrahiim Ketertarikan teteh pada sepeda bermula ketika bermain ke rumah uwanya. Di sana, sebuah sepeda tricycle terlihat tersimpan di pojokan. Awalnya Teteh acuh. Lalu tak disangka ketika kami akan pulang uwanya menawarinya untuk mengambil sepeda itu sebagai hadiah. Ia pun senang. Beberapa bulan yang lalu tiba-tiba neneknya mengajaknya pergi membeli sepeda. Neneknya melihat jika sepeda tricycle nya sudah mulai tak muat di badan Teteh. Ia senang. Ia langsung mengiyakan ajakan neneknya dan membeli sepeda berwarna ungu. Sesampainya di rumah Ia mencoba untuk menaikinya, namun ketinggian joknya membuat Ia kepayahan. Setelah mendapat instruksi verbal akhirnya Ia pun tak lagi kesulitan. Ternyata tantangannya tidak berhenti pafa menaiki sepeda saja namun juga mengayuhnya. Ia perlu beberapa kali mencoba sampai akhirnya berhasil. Saat ini dengan kemampuan audionya Ia dengan mudah menaplikasikan instruksi-instruksi bermain dengan sepedanya. Ia dengan mudah paham kapan...

Bermain dengan 'Kura-Kura' Warna Warni

Bismillahirrahmaniirahiim Beberapa waktu lalu tak sengaja saya menemukan mainan yang dijual oleh salah seorang kenalan via fb. Melihat mainan tersebut langsung 'aha moment' saya menyala. Mainannya cocok untuk menstimulus anak kedua yang umurnya baru lewat 1 tahun. Bersuara dan menyala ketika disentuh. Cocok untuknya. Namun, belakangan, saat mainan itu sudah datang orang yg pertama bergembira adalah Teteh. Ia semangat mencoba dan terus mengulang-ulang menyentuh mainan itu. Adiknya hanya melirik sesaat lalu ditinggalkan. Sedih rasanya. Melihat ketertarikan Teteh pada mainan adiknya yg merespon setiap sentuhan pada bagian bersimbol rasanya membuatku sedikit menghela. Setidaknya mainannya masih termanfaatkan. Penasaran mulai menggelayut di benak. Mengapa Teteh begitu penasaran dengan mainan ini? Apakah karena suaranya? Ataukah karena nyala lampunya yang berwarna-warni. Dari tingkahnya sering mengikuti kata-kata yang keluar dari mainan itu rasanya Ia tertarik karena suara...

TV Berlangganan dan Program Anak

Bismillahirrahmanirrahiim Memutuskan berlangganan internet plus TV kabel termasuk sulit. Pada awalnya kami sepakat ingin meminimalisir paparan televisi pada anak-anak kami. Namun, seiring dengan berjalannya waktu kebutuhan untuk mengupdate berita ataupun sekedar hiburan semakin terasa. Alhasil dengan amat berat hati kami mulai memesan paket ini. Teteh yang umurnya telah mendekati 4 tahun semakin sadar akan kehadiran TV. Melihat program anak Ia makin girang. Kartun atau pentas boneka menjadi andalannya. Hasilnya tujuan awal kami berlangganan untuk mengikuti berita terkini malah sering dihalangi Teteh. TV kami disabotase olehnya. Program anak itu berbekas sekali di pikirannya. Seringkali Ia mengikuti kata-kata yang muncul dari program tersebut. Meskipun berbahasa inggris. Ia mulai fasih berhitung dalam bahasa inggris meski hanya sampai angka kelima. Menonton adalah aktivitas berfokus dengan visualisasi bukan? Namun lucunya Teteh seringkali pergi meninggalkan spot menontonnya. ...

Menggambar dan Mewarnai

Bismillahirrahmaanirrahiim Menggambar dan mewarnai tentu menjadi aktivitas yang menyenangkan buat anak-anak. Teteh pun termasuk yang senang dengan aktivitas ini. Pada mulanya Ia sering cepat menyerah ketika menggambar. Ia pun lalu meminta Bundanya menggambarkan untuknya. Namun saat ini Ia semakin percaya diri untuk menggambar. Seringkali Ia meminta buku dan alat tulis untuk Ia gambar.  Konsep gambar manusia pun sudah cukup terlihat baik meski sama sekali tak sempurna. Lalu gambar yang kadang terlihat seperti benang kusut pun ketika ditanyakan maksudnya Ia bisa bercerita. Ia menceritakan maksud gambar itu. Dan jika diperhatikan lebih memang bentuk coretannya mirip dengan yang diceritakannya. Teteh yang saya sering cap sebagai anak bergaya audio ternyata mampu memvisualisasikan apa yang ada di benaknya. Olah rasa ini hanya sesekali saja Ia kerjakan. Seringkali Ia hanya menggambar satu objek saja lalu pergi meninggalkan hasil karyanya.  #harikeenam#tantangan10hari

Read Aloud

Bismillahirrahmaanirrahiim Aktivitas membaca sudah saya biasakan sejak Teteh masih belum bisa tengkurap pun. Membacakan gambar yang terlihat, mulai dari warna, bentuk atau jumlah. Aktivitas ini sempat agak tersendat ketika akhirnya kami memutuskan untuk mencari rumah kami sendiri. Bagaimana Teteh bereaksi terhadap buku? Lekas (seolah-olah) membacanya atau memberikan pada sekitarnya (untuk dibacakan)? Jawabannya adalah yang kedua. Dia lekas meminta bantuan untuk membacakan buku. Sambil mendengarkan buku dibacakan kadang Ia melakukan aktivitas yang lain. Ini yang membuat pembaca cerita kadang protes dan meminta Teteh untuk fokus. Meski kadang Ia terlihat tak fokus, nyatanya Ia bisa memotong cerita Bundanya (buku yang sama pada lain waktu) dan bercerita sesuai alur cerita si buku. Pertanda bahwa Ia memiliki gaya belajar audio. Selain seringkali terlihat tak fokus dengan buku yang Ia minta bacakan, Ia pun sering meminta dibacakan cerita yang sama berulang kali. Terkait alasan atau...

Sensory Play, Bermain Pasir Ajaib

Bismillahirrahmanirrahiim Bermain pasir adalah salah satu kegiatan merangsang kecerdasan spasialnya. Membentuk pasir dengan cetakan yang disediakan. Lalu berkreatifitas dengan cetakan cetakan itu. Cetakan yang umumnya untuk bentuk kue seringkali diimprovisasi oleh Teteh menjadi banyak hal, seperti rumah siput. Ketika bermain pasir Ia seringkali bermain peran. Bersama boneka ia berdialog. Selain juga berperan sebagai pedagang menawari bundanya kue yang Ia buat dengan cetakan itu. Dari sebuah sensory play Ia bisa menjadi sebuah sarana belajar keverdasan linguistik atau bahkan kecerdasan interpersonal. Jika sudah bermain dengan pasir Ia sering lupa waktu. Bermain gadget yang seringkali menjadi keinginannya ketika senggang tak pernah dilirik. Hal yang cukup efektif untuk mengalihkan perhatiannya dari gadget. #tantangan_hari_ke10

Membaca Buku

Bismillahirrahmanirrahiim Membaca buku adalah salahsatu kegemaran teteh. Ia selalu antusias ketika buku dibacakan. Untuk gaya belajarnya yang audio membacakan menjadi sarana Ia menyerap ilmu lebih. Ia dapat belajar tentang adab dan iman dengan membaca. Kegemaran Teteh adalah meminta bundanya membaca buku dengan judul yang sama. Menjelang tidur Ia bisa meminta dibacakan beberapa buku cerita anak. Membiasakannya membaca buku adalah selipan harapan bahwa Ia akan semakin mencintai buku. Dari buku banyak ilmu yang akan Ia temukan. Tantangan membaca buku adalah ketika Teteh berkeras ingin membaca buku yang sama yang sebelumnya sudah dibaca dan Ia sudah hapal isi ceritanya. Membaca buku yang sama seringkali membuat Bundanya kehilangan minat. Padahal membacakan buku yang sama untuknya mungkin salah satu caranya untuk mengikat makna lebih mendalam. #tantangan_hari_ke9

Tangram Mode On

Bismillahirrahmanirrahiim "Bun, pinjem hp," seru teteh untuk kesekian kalinya. "Buat apa teh?" tanya saya. Tebak apa yang ingin dia lihat? Ternyata Ia sedang senang menonton cuplikan video dari game-game salah satu game developer yang biasanya nangkring di playstore. Ia tidak tertarik menginstalnya. Mungkin bukan karena tidak mau tapi lebih karena Ia tahu Ia tak akan diizinkan. Dan Ia sudah merasa puas hanya dengan melihat videonya. Screen time anak usia 4 tahun memang tak seketat screen time anak usia 2 tahun. Akan tetapi, ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa aktivitas screen time (terutama gadget) pada anak balita justru menurunkan nalar dan konsentrasinya. Maka dari itu, saya 'galak' klo sudah tentang gadget. Tak memberinya izin bergadget tentu perlu dibarengi aktivitas pengganti yang tak kalah menarik. Kebetulan beberapa hari sebelumnya Teteh sudah menggunting beberapa bentuk geometri di salah satu buku aktivitas yang sempat dibeli. Saya...

Bunda, sholat yuk..

Bismillahirrahmanirrahiim Sabtu malam Teteh tiba-tiba nyeletuk, "Bunda, sholat yuk. Teteh mau sholat." Permintaan yang tak sering muncul dari seorang anak berusia belum genap 4 tahun ini. Saya pun mempersilakan. Ia sumringah.  Ia pun berdiri di atas sajadah dan memulai bacaan iftitah. Di tengah-tengah, saya baru sadar, Teteh belum bermukena. Saya pun menyetopnya dan mwmintanya memakai mukena. Kebetulan saat itu hanya ada mukena ukuran besar, alhasil Teteh hanya memakai atasan mukena untuk menutupi auratnya. Beres memakai mukena, Ia kembali membaca Iftitah yang Ia pelajari bersama sepupunya saat masih sering menginap di rumah Ummi (Ibu Saya). Ummi punya cara tersendiri agar cucunya lancar hapal Iftitah, yaitu tak mengizinkan cucunya jajan sebelum Ia berhasil hapal potongan iftitah. Cara yang cukup efektif di Teteh yang sebelumnya sering mendengar Iftitah di video yang dipasang Ammi nya di mobil. Doa Iftitah yang dibaca Teteh sukses sampai akhir, meski ada 1 kata y...

Jajan Bersama Kakek

Hari ini, teteh diajak kakeknya ke warung. Kebetulan kakeknya akan membeli beberapa kebutuhan titipan nenek. Teteh tentu senang. Sesaat setelah diajak Ia langsung mengiyakan. Pada awalnya saya santai saja ketika Teteh pergi bersama kakeknya. Saya tak berpikir Ia akan jajan, karena biasanya Ia akan meminta izin saya juga. Saya lupa, Ia masih kanak-kanak yang tentunya masih mudah tergiur dengan jajanan. Ia pulang dengan membawa jajanan. Kakeknya laporan Teteh membeli jajanan, entah apa, tapi Teteh memilihnya, ujarnya. Saya pun langsung meminta izin Teteh untuk memperlihatkan jajanannya. Saat saya melihat jajanan yang satu tetiba Teteh nyeletuk, "Bun, liat ini ada tanda halalnya". Ia sumringah memperlihatkan label halal di ciki yang Ia beli. Namun di jajanan yang saya pegang saya tak menemukannya. Gara-gara celetukannya saya pun spontan menjawab, "Di jajanan yang ini ada ga?" Saya kembali menyodorkan jajanan yang saya pegang. "Ga ada ya?" Tanya saya. Ia ...

Ketika Jajanan Menggoda

Siang tadi Teteh tiba-tiba menghampiri saya yang sedang memberi asi adiknya. Ia menghampiri saya setelah sebelumnya Ia coba memanggil saya namun mungkin jawaban saya tak terdengar. Rupanya Ia keukeuh ingin bersepeda ke warung bersama bundanya. Pada awalnya karena saya lihat adiknya masih asik saya menolak. Namun melihat dia tetap pada pendiriannya dan adiknya pun malah ikut memperhatikan tetehnya, saya pun mengiyakan. Adiknya akhirnya saya titipkan pada kakeknya dulu, agar tidak terlalu berat ketika akan membantunya mendorong sepeda ketika Ia kesulitan menggoes.  Sampai di warung saya pun mempersilakan Teteh untuk memilih jajanan. Ia pun mulai berkeliling melihat-lihat. Sambil melihat-lihat saya coba tawarka beberapa jajanan yang menurut saya masih aman untuk dia konsumsi. Saya tak sadar ketika Ia memperhatikan seorang anak kecil (yang sepertinya umurnya lebih muda darinya) yang sedang memilih jajanan mainan murah. Ketika sadar saya mulai curiga Ia akan memintanya. Ternyata bena...

Menunggu itu ...

Momen menunggu mungkin menjadi hal yang menguras emosi. Maka momen ini pun menjadi latihan yang tepat untuk mengelola emosi.  Hari ini, Teteh berkesempatan menemani Bundanya berbelanja. Dikesempatan itu Ia tak lupa untuk meminta jatah jajan (^.^"). Ia meminta ki*o agar yang dikemas panjang dan biasanya dikonsumsi dalam keadaan beku. Setelah memberi syarat hanya boleh 1 pcs tiap hari saya pun memasukkannya ke dalam keranjang belanja. Sesampainya di rumah, sy masukkan agarnya ke freezer. Disinilah proses menunggu yang membuat Teteh berulang kali bolak balik membuka freezer untuk memastikan agarnya sudah beku. Berulang kali Ia berkata, "Bunda, agarnya sudah beku, hayu dimakan". Berulang kali pula bundanya menjawab, "Belum teh." Jam demi jam berlalu dan agar belum juga membeku. Sejak dimasukkan ke freezer di jam 2 siang (sekitar) sampai Ia akhirnya tertidur setelah azan isya berkumandang pun masih belum beku. Hampir saja teteh menyerah ketika ashar. Ia berkera...

Melatih EQ, Mengelola Emosi (Sabar) dalam Beraktivitas

Bismillahirrahmaanirrahiim.. Pernah ga pas lagi banyak kerjaan dan lalu anak 'berkarya'? Pernah kayaknya ya.. Menguras emosi biasanya klo udah gini. Hehe. Ini yg terjadi di saya sih. Seringkali meninggi suaranya diawal meski lalu diturunkan lagi karena sadar ga berguna sikap seperti itu. Ketidakcakapan mengelola emosi ini mungkin ga sih tertangkap oleh anak? Mungkin banget. Klo udah gini anak pun bisa menginternalisasikannya lalu Ia pun menjelma jadi anak yang tak cakap mengelola emosi. NOOO.  Hari ini dalam rangka latihan mengelola emosi, saya dan sulung beraktivitas bersama, Memasak. Sudah lumayan lama ga masak bareng. Masak bareng anak seperti apa? Pastinya ya begitu deh.. Ada 'drama' anak mainin adonan.. Hehe. Nah disinilah latihan buat Bundanya untuk mengelola emosi dan menyampaikan perasaan Bunda jika Sulung mulai bermain adonan. Menyampaikan perasaan jadi latihan cerdas emosi juga kan? Dengan latihan ini harapannya Sulung bisa mulai menceritakan perasaanny...