Skip to main content

Posts

Permenku Ditambah Satu

Konsep tambah dalam matematika sangat mudah sekali ditemukan dalam dunia nyata. Contohnya ketika Teteh memakan coklat kesukaannya lalu bunda menyodorkannya lagi coklat sejenis dan memintanya untuk menghitung jumlahnya setelah ditambah. Meski tak lantas paham Ia akhirnya bisa mencernanya secara perlahan. #day10

Sisa Berapa?

Hari itu Teteh membeli jajan. Saat di warung Ia membeli bukan hanya untuk dirinya namun pula untuk adik, ayah dan bundanya. Ketika sampai di rumah Ia mulai membagikan jajanan itu. Pertama-tama Ia membagikan untuk adiknya. Lalu saya iseng bertanya, 'Sisa berapa lagi sekarang?' Setelah terdiam dan menghitung sebentar Ia pun berkata 'Tiga'. Lalu Ia melanjutkan berbagi lagi, dan saya kembali menanyakan sisanya sampai akhirnya semua jajanan terbagi. Matematika sebenarnya bisa dibuat menyenangkan ya. #day9

Bacakan Untukku

Belum bisa membaca tak membuatnya berhenti untuk terus membuka buku. Setiap hari, dengan semangat, ia menjinjing buku yang ingin dibacanya. Ia pun menyodorkannya padaku untuk dibacakan. Ketika bundanya sedang sibuk maka jurus negosiasi Ia keluarkan. Meminta dibacakan sejumlah judul /buku. Seringkali Ia sadar dengan hitungan jumlah buku yang sudah dibacakan namun tak jarang Ia pun tak menggubris kesepakatan itu. Nampaknya jika sudah demikian hanya tinggal pembiasaan untuk membuatnya paham. #day8

Bunda, Mau yang Satunya

Berbagi menjadi hal yanh terus menerus dibiasakan. Meski sesekali penuh tantangan. Entah kakaknya entah adiknya. Berbagi erat kaitannya dengan konsep adil. Entah sejak kapan pemahaman tentang adil pada akhirnya adalah tak selalu sama. Porsi kakak tak selalu sama dengan adik. Porsi ayah tak selalu sama dengan bunda. Karena kebutuhan tiap individu berbeda. Dan adil adalah menempatkan kebutuhan dan ketersediaan secara proporsional. Akhirnya, ketika Teteh bersikukuh dengan memilih jumlah yang banyak ketika berbagi makanan tak lantas ditolak. Karena kebutuhan akan energinya mungkin lebih banyak dari adiknya. Seperti ketika saya membagi makanan kesukaannya. Atau ketika saya meminta Ia berbagi dengan adiknya. Ia dengan mantap akan berkata 'Bunda, mau yang banyak.' Ketika Ia menyangka jumlah yang berada di adiknya lebih banyak maka Ia akan meminta bagian yang lebih banyak. Seringkali akhirnya saya memintanya untuk membandingkan langsung mana yang lebih banyak miliknya atau milik adik...

Balon Udara

Siapa yang tak suka melihat balon besar warna warni melayang di angkasa? Sepertinya tak ada seorang anak pun yang tak suka melihatnya. Begitupun Teteh. Ia begitu sumringah ketika kami melalui suatu kawasan penuh balon udara. Bahkan Ia bersikukuh ingin memilikinya. Ketertarikannya pada balon menjadi kesempatan bagi saya menyisipkan lagi pengenalan angka. 'Teh, coba hitung berapa balon udaranya?' Mendengar instruksi tersebut membuatnya lalu menunjuk-nunjuk balon udara sambil komat kamit menghitung. 'Ada 5 bunda,' jawabnya masih dengan wajah sumringah. Semoga dengan ala ini Ia jadi senang bermatematika. Karena matematika itu sebenarnya menyenangkan. :p #day6

Belanja Cemilan

'Bunda, dede mau macaroni seperti yang teteh beli,' kata Teteh ketika sadar adiknya masih meminta cemilan itu. Padahal cemilan itu telah habis dikonsumsi. 'Yaudah beli lagi 2 ya? Bunda juga mau :p.' Ia pun beranjak dari tempatnya tak lupa ia meminta uang untuk membelinya. 'Bunda, mana uangnya. Kalau beli dua berarti uangnya harus 2,' ujarnya. Saya hanya tersenyum, 'memang berapa harganya?' '2 ribu bunda.' Saya pun memintanya mengambil uang 5 ribuan di tasnya. 'Ambil yang 5 ribu aja ya. Uang 5 ribu lebih besar dari uang 2 ribu jadi bisa beli lebih banyak.' Ia menurut lalu berbelanja dan kembali dengan membawa kembalian 3 ribu. 'Bunda ini ada kembaliannya.' Saya pun tersenyum. Ia belum paham harga namun sudah paham konsep jumlah, untuk mendapatkan dua barang seharga sama ia harus membawa dua uang ukuran yang sama. Anakku sudah besar ternyata. #day5

Rintik Hujan

Hari ini Teteh menginap di rumah Nenek. Biasanya aktivitas di rumah Nenek lebih beragam. Bermain di mobil Kakek, senam, bersepeda, menggambar atau yang lainnya. Namun hari itu Bunda iseng mencari kegiatan untuk Teteh. Melihat kertas dan pensil bunda punlalu menggambar awan dan rintik rintik hujan dengan jumlah yang berbeda. Tak lupa menuliskan angka-angka di atas kertas. Setelah beres Bunda pun memanggil Teteh, 'Teh, sini lihat.' Teteh menoleh ke Bundanya sambil melihat kertas yang Bunda pegang. 'Coba ini berapa hujannya?' Ia sumringah lalu menghitung jumlah titik hujannya, 'Tiga Bunda,' ucapnya. Bunda pun lanjut bertanya, 'yang mana angkanya?' Dengan bersemangat Ia menunjukkan angka 3 dengan tepat. 'Wah pintar anak Bunda.' Ternyata Teteh sudah Bisa mencocokkan jumlah dan angkanya. #day4

Ketika Teteh Meminta Gadget

'Bunda, mau nonton kelinci,' katanya hari itu. Bundanya tertegun sejenak, mencerna maksud perkataannya. O, maksudnya dokumentasi aktivitas Ia memberi makan kelinci tempo hari. Bunda tak langsung mengangguk hingga Ia mengulang pertanyaannya lagi. Ketika masih terdiam tanda belum sepakat, Ia pun kembali menego, 'nonton 1 aja bunda. Janji deh,' katanya dengan senyumnya yang lebar. Bunda pun akhirnya pasrah mengizinkan lalu memastikannya. Tepat setelah video itu selesai aplikasi pun ditutup dan gadget dikembalikan pada bundanya. Good Job, She knows the number. #day3

De, Mau Susu?

Aktivitas pagi hari yang hampir tak terlewat akhir-akhir ini adalah membuatkan Teteh dan Adik susu kesukaannya. Membuat susu nampaknya menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk teteh. Ketika kotak dan kaleng susus diturunkan Teteh langsung bersorak 'Bunda, biar Teteh yang buat susu untuk Adik. Bunda boleh buat susu untuk Teteh.' Entah apa yang membuatnya berpikir membuat susu untuk adiknya lebih menyenangkan dibandingkan membuat susu untuk dirinya sendiri. Padahal biasanya Ia membuat sendiri susunya. Meski sudah terbiasa membuat susu, Teteh tak pernah absen menanyakan takaran air dan susunya. Memastikan semua sesuai dengan seharusnya. Sambil menakar susu tak lupa Ia lafalkan jumlah takar yang Ia masukkan. Lalu mengaduknya dan memberikan susu tersebut pada Adiknya. Adiknya sumringah. Ia pun senang. Mungkin inilah yang Ia cari ketika Ia membuatkan susu untuk adiknya. Senyum sang adik. #day2

Membantu Bunda Mencuci Baju

Teteh sangat aktif sekali kesehariannya. Berlari kesana kemari tanpa lelah. Jika selesai satu aktivitas Ia bisa lanjut ke aktivitas lainnya tanpa jeda. Khas anak-anak yang berenergi. Pagi itu cucian baju bunda sudah penuh yang artinya waktunya mencuci. Berhubung instalasi perpipaan yang masih temporer akhirnya mencuci berarti bolak-balik ke luar rumah untuk membuka tutup keran. Kenapa tak membiarkan keran ke mesin cuci selalu terbuka? Karena selain mengikuti petunjuk di buku manual (seingat sy) juga karena ada bocor di pipa sambungan. Kan sayang tuh airnya kalau dibiarkan nyala terus. Jadi untuk menghemat air yang menetes seringkali saya mematikan keran tepat ketika mesin cuci sudah di mode mengeringkan. Hari itu kebetulan bunda sedang di luar membersihkan sampah dapur untuk dimasukkan ke biopori yang sudah dibuat ayahnya anak-anak. Ingat bahwa mesin cuci sudah dijalankan hampir 1 jam saya memanggil teteh. Meminta bantuannya untuk melihat angka yang muncul di mesin cuci agar bisa mem...

Berebut Buku

Ketertarikan anak-anak pada buku kadang menjadi tantangan tersendiri bagi Bunda. Ketika Teteh sedang minta dibacakan satu buku, ternyata Adik juga tertarik pada buku yang sama. Secara reflek ketika Adik tertarik Ia akan mengambil bukunya. Hal ini tentu tak disukai Teteh yang kemudian merebut kembali buku yang diambil Adiknya. Hal ini berlaku sebaliknya. Jika sudah demikian biasanya ada drama dulu sebelum akhirnya bisa bersamaan tenang mendengarkan. Tantangan harian yang perlu selalu dilalui. Hehe #day10

Ketika Bunda Mengantuk

Aktivitas membaca sebelum tidur memang menjadi salah satu transfer ilmu sebelum tidur. Namun seringkali rasa kantuk yang menjadi membuat bunda hanya bisa membacakan 1 buku tipis atau bahkan hanya beberapa halaman saja. Kadang Teteh menjadi kesal, namun seringkali Ia memaklumi dan kemudian tidur. #day9

Mengalahkan Kekuatan Gadget

Gadget tetap menjadi godaan terberat baik bagi orangtua maupun anak-anaknya. Bunda sering sekali tergiur untuk melepas penat dengan membuka sosmed. Sedangkan anak-anak tergiur dengan menonton video atau bermain game. Alhamdulillah Teteh termasuk yang bisa diajak kompromi tentang gadget time. PRnya hanya tidak bermain gadget dekat adiknya yang belum genap 18 bulan. Mengalihkan anak-anak dari gadget adalah hal yang susah-susah gampang. Adiknya yang terlihat senang dengan buku alhamdulillah bisa teralihkan dengan buku. Jika sudah demikian dan Teteh mendengar buku sudah dibacakan, Ia biasanya ikut tertarik dan nimbrung. Hari ini kami membaca buku Peter Rabbit yang aktif dan mengabaikan perintah ibunya. Di akhir cerita peter malah sakit. #day8

Aku Anak Cerdas

Bekal adab tentu paling efektif dari contoh. Namun ilmu tentang adab ini dapat terangkum di sebuah buku. Buku tentang adab keseharian menjadi bekal anak-anak dalam beraktivitas. Doa-doa harian yang tercakup dalam buku adab harian ini menjadi bekal Teteh untuk beraktivitas standar. Membacanya membuat Teteh mengulang-ngulang bacaan doa ketika Ia senggang. #day7

Menebak Suara

Membaca buku tak sekedar memanjakan mata dengan visualisasinya, namun pula dapat mengolah indera pendengaran. Menebak suara dari cerita untuk dicek kemudian visualisasinya di halaman selanjutnya. Buku menebak suara tak hanya menyenangkan untuk Adik yang masih berusia 17 bulan tapi juga untuk Teteh yang tentu sudah lebih banyak mendengar suara di sekitarnya. #day6

Mengenal Kembali Rasa

Meski Teteh sudah makin pandai mengekspresikan rasa Ia tetap excited membaca buku tentang rasa. Terlebih di buku itu banyak visualisasi yang menarik. Tentu menjadi pengalaman yang menyenangkan untuknya. Ia kembali menerka-nerka dan melatih ekspresi yang ada. Berbeda dengan sang kakak, Adik masih perlu pengenalan tentang rasa. Membaca bersama kakaknya tentang tema ini tentu menjadi hal yang menarik buatnya. Ia tampak bahagia pula dengan ilustrasi di bukunya. Mudah-mudahan mengenal rasa dari buku bacaan bisa membuka wawasannya tentang banyak ekspresi dan rasa. #day5

Rasul Sayang Binatang

Membaca berarti transfer ilmu, adab, akhlaq dan sebagainya. Membiasakan anak-anak membaca kisah-kisah para nabi adalah salah satu goal keluarga kami. Inilah yang melandasi kami akhirnya menyengajakan untuk membeli buku-buku tentang kisah Rasulullah SAW. Hari ini anak-anak mengambil beberapa buku boardbook tentang Rasulullah SAW. Salahsatunya adalah Rasul sayang binatang. Buku ini menyajikan tentang betapa Rasulullah SAW menyayangi binatang. Rasul selalu sering memberi makan hewan yang lapar. Jika ada keledai yang mengangkat beban terlalu berat Rasulullah SAW akan menegur pemiliknya.  Membaca tentang kisah Rasulullah SAW yang sayang binatang rupanya berkesan. Meski terdiam saat mendengarkan cerita, teteh seringkali mengingatkan Bunda untuk tidak menyiakan tulang ikan atau ayam yang dagingnya sudah dimakan. Ia mengatakan bahwa tulangnya bisa dimakan oleh kucing yang memang sering bolak balik lewat rumah kami. #day4

Membaca, Bermain atau Tidur

Dalam benak seorang anak tentu akan banyak yang ingin dia lakukan. Melompat, berlari, bernyanyi, memasak, bercanda, membaca, dsb. Banyak keinginan membuat mereka terus aktif sepanjang hari. Membuat orangtuanya pun kewalahan. Belum lagi kewalahan dengan celotehan yang kian hari kian bertambah. Pilihan membaca, bermain atau langsung tidur akan muncul tiap kali malam tiba. Energi yang masih penuh tentu menjadikan anak-anak masih ingin beraktivitas. Membaca buku tetap menjadi pilihan utama anak-anak ketika buku sudah di depan mata mereka dan Bunda atau Ayahnya siap bercerita. Namun jika agenda seharian telah membuat anak-anak lelah, seringkali agenda membaca tak sempat dilakukan. Tidur menjadi pilihan. Kenapa sih anak-anak begitu keranjingan dengan aktivitas 'membaca' buku (baca: dibacakan). Mungkin dari sana mereka akhirnya mendapatkan kosakata baru, moral cerita dan tentunya ide terbaru untuk bermain peran ketika bermain bersama sepupunya. Membaca benar-benar membuka...

Pohon Literasi

Projek mengerjakan pohon literasi itu susah-susah gampang. Susah menemukan waktu yang pas untuk mengeksekusinya. Darurat manajemen waktu ceritanya. Pohon literasi ini daunnya adalah buku-buku yang dibaca oleh tiap anggota keluarga. Projek yang menarik bukan? Agar sukses mengisi pohon literasi tentu perlu ada sesi Reading Time di agenda hari keluarga. Reading Time di keluarga kami biasanya sih di malam hari. Tapi seringkali anak-anak kebelet baca di waktu siang. Karena mungkin lemari buku memang tak jauh dari tempat mainan mereka. Mana pohon literasi kami? Ini dia. Daun di pohon literasi jika ditempel sejak awsl tahun mungkin sudah sangat rimbun. Tapi berhubung baru dapat ide karena ada game bunda sayang, daunnya masih sedikit. #day2

Awal Cerita tentang Membaca

Banyak yang sudah paham bahwa buku adalah jendela dunia. Dari sana Ia menampilkan banyak wajah dunia atau olah pikir tiap insan. Buku tentu tak hanya untuk asal dibaca namun untuk ditangkap dan dipahami makna atasnya. Cerdas literasi katanya. Paham atas pentingnya membaca (dan memahami bacaan) sejak Teteh masih berusia bulanan Ia sudah berkenalan dengan buku. Tak terlalu tertarik pada awalnya. Buku bantal yang sengaja dibelikan untuknya hanya ia pandangi atau pegang sebentar lalu diacuhkan. Sedih rasanya. Berjalannya waktu ternyata membuat Ia semakin tertarik dengan buku. Alhamdulillah pada saat usianya 1,5 tahun Ia semakin semangat membaca. Buku boardbook yang paketan seringkali Ia ambil untuk minta dibacakan. Sekarang di usianya yang menginjak 4 tahun semangat bacanya kian meningkat. Dalam 1 hari Ia bisa meminta dibacakan beberapa judul buku. Memang masih bacaan cerita yang ringan namun seringkali bisa menyisipkan banyak hikmah.. #hari ke1