Balita lumrah jika berebut mainan, katanya. Memang itubpula terjadi di rumah kami. Teteh seringkali merebut mainan yang dipegang adiknya. Banyak alasan melakukannya. Selain karena memang miliknya Ia pun melakukannya karena Ia tertarik ingin bermain dengan mainan yang dipegang adiknya.
Mengatasi masalah ini tentu saya coba juga dengan dongeng. Saya bercerita bahwa mainan itu senang dimainkan bersama sama dan bergantian. Ketika mainan diperebutkan mainan akan kesakitan. Mainan juga akan kesakitan ketika Ia diinjak atau dilempar. Maka mainan perlu dimainkan seperti seharusnya dan bersama-sama. Kalaupun sulit memainkannya bersama sama, mainan akan senang ketika Ia dimainkan bergantian. Karena artinya Ia menjadi punya banyak teman. Semoga cerita ini bisa membuat teteh lebih mau berbagi. Sekarang sih Teteh sudah mulai meminta izin adiknya ketika Ia menginginkan mainan yang sedang dipegang adiknya dan milik adiknya.
Satu hari di bulan Agustus kemarin menjadi pengalaman perdana keluar rumah sejak dini hari dan kembali saat orang rumah sudah terlelap. Semua ini akibat dari sebuah acara spesial di Jakarta. Mengapa spesial? Karena di hari itu aku mendapatkan materi multi bidang namun satu tujuan, yaitu ‘Sukses Mulia’. Ada yang tak kenal dua kata ini? Hmm.., baiklah akan aku jelaskan (seperti yang pernah dijelaskan oleh saudariku), dua kata itu adakah jargon yang diperkenalkan oleh Bapak Jamil Azzaini. Maksud dari kata ini adalah sukses itu bukan hanya berdampak pada diri dan keluarganya tapi juga pada orang lain yang ada di sekitarnya. Demi memfasilitasi jargon ini, rangkaian materi di festival benar-benar komplit dan menyeluruh. Dimulai dari materi pernikahan dan parenting pada dua sesi pertama dan dilanjutkan dengan kesehatan dan perencanaan keuangan di dua sesi selanjutnya. Empat sesi awal ini dirancang untuk dijadikan dasar dari kesuksesan. Baru kemudian di sesi selanjutnya dibahas ttg jalan ke...
Comments
Post a Comment