'Bunda mau beli mainan di toko x' katanya. Mengingat Ia yang baru saja belanja mainan bersama neneknya (meski tak seberapa), saya pun tak mengizinkannya. 'Teteh kan mainannya masih banyak', ujar saya. Ia merengek sekejap. Saya mengingatkannya akan mainan di rumah yang masih banyak. Lalu nego. Saya akan mengizinkannya membeli mainan tapi mainan di rumah perlu diberikan pada yang membutuhkan agar tak menumpuk. Mendengar itu Ia akhirnya terdiam lalu kembali bermain.
Alhamdulillah di usianya yang semakin besar (4th), Ia semakin bisa diajak nego tanpa rengekan berlebihan. Sebelumnya Ia akan merengek dan menangis ketika keinginannya tak terpenuhi. Biasanya saya akan membiarkannya menangis tanpa memenuhi keinginannya. Sambil mengingatkan bahwa dengan menangis Ia tak akan mendapatkan apa-apa. Ia kemudian bisa sangat marah dan lalu mencari ayahnya untuk mengadu. Nah disini tugas ayahnya yang kembali memahamkan tentang adab meminta. Dan alhamdulillah itu ampuh. Memang kerjasama antar pasangan dalam memahamkan anak akan lebih mudah diterima anak dibandingkan hanya salahsatu pihak saja yang tugasnya memahamkan. Sering berdiskusi tentang hal2 teknis mendidik anak dengan pasangan memudahkan juga memahamkan anak tentang uang.
#day2
“Saat kalian bekerja nanti tetap jaga idealisme kalian” Begitulah kira-kira kata yang sering terdengar dari dosen maupun teman-teman mahasiswa yang lain, Jaga Idealisme. Entah dipahami atau tidak, kata-kata itu seolah menjadi kata mujarab bagi mahasiswa. Idealisme jika diartikan secara bahasa berasal dari dua kata yaitu ideal dan isme (paham). Idealisme memiliki tiga arti pada kbbi, namun untuk bahasan ini saya rasa definisi berikut lebih pas. Idealisme adalah hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yg dianggap sempurna. Jadi dengan kata lain idealisme sangat erat kaitannya dengan arti ideal bagi tiap mahasiswa.
Comments
Post a Comment