Skip to main content

Pengakuan (Apresiasi) dalam Kemandirian

Seorang manusia tentu tak bisa lepas dari egonya. Begitupun seorang anak. Ia selalu ingin menjadi orang yang terdepan, paling bisa mengerjakan sesuatu yang diminta padanya. Seorang anak ingin selalu mendapat pengakuan atas kebaikan yang dikerjakannya. Jika hal ini tak terpenuhi, siap-siap mendapati Ia mutung di tengah masa Ia mulai mencoba konsisten mengerjakan kebaikan.
Saya berusaha membeikan apresiasi pada anak ketika Ia telah berhasil melakukan sesuatu. Apapun, jika hal itu bukan melakukan hal yang terlarang yang membahayakan jiwa dan raganya. Saya mencoba apresiasi tindakannya mencuci piring sendiri. Saya pun apresiasi Ia ketika Ia berhasil memakai bajunya sendiri. Hal ini selalu membuatnya tersenyum, entah dengam tersipu atau lebar.
Ayahnya saat ini mendukung upaya apresiasi ini dengan bentuk reward. Ketika Ia berhasil mengerjakan sesuatu maka Ia akan mendapatkan hadiah. Di titik kritis ini menjadi kartu sakti. Ia menjadi tambah sumringah untuk mengerjakannya.
Hari-hari memantapkan krmandiriannya memakai baju sendiri masih maju mundur. Namun semoga dengan apresiasi apresiasi yang coba kami berikan padanya membentuk kepercayaannya pada titik bahwa kemandirian itu baik, menyenangkan dan membahagiakan orangtuanya.

Comments

Popular posts from this blog

Aku Berkata tentang Idealisme Mahasiswa

“Saat kalian bekerja nanti tetap jaga idealisme kalian”   Begitulah kira-kira kata yang sering terdengar dari dosen maupun teman-teman mahasiswa yang lain, Jaga Idealisme. Entah dipahami atau tidak, kata-kata itu seolah menjadi kata mujarab bagi mahasiswa.   Idealisme jika diartikan secara bahasa berasal dari dua kata yaitu ideal dan isme (paham). Idealisme memiliki tiga arti pada kbbi, namun untuk bahasan ini saya rasa definisi berikut lebih pas. Idealisme adalah hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yg dianggap sempurna. Jadi dengan kata lain idealisme sangat erat kaitannya dengan arti ideal bagi tiap mahasiswa.

Kisah Kecil

Angin menyentuh lembut dedaunan di pagi itu. Bak seruling, dedaunan pun berdesir mengirimkan irama-irama merdu. Pagi yang indah untuk memulai hari yang lebih indah. Pagi itu tepat seperti yang direncanakan, aku melangkah menuju tempat para sahabatku telah berkumpul. Kami akan pergi ke salahsatu tempat wisata di kawasan bandung.

Sebuah Festival di Agustus Ceria

Satu hari di bulan Agustus kemarin menjadi pengalaman perdana keluar rumah sejak dini hari dan kembali saat orang rumah sudah terlelap. Semua ini akibat dari sebuah acara spesial di Jakarta. Mengapa spesial? Karena di hari itu aku mendapatkan materi multi bidang namun satu tujuan, yaitu ‘Sukses Mulia’. Ada yang tak kenal dua kata ini? Hmm.., baiklah akan aku jelaskan (seperti yang pernah dijelaskan oleh saudariku), dua kata itu adakah jargon yang diperkenalkan oleh Bapak Jamil Azzaini. Maksud dari kata ini adalah sukses itu bukan hanya berdampak pada diri dan keluarganya tapi juga pada orang lain yang ada di sekitarnya. Demi memfasilitasi jargon ini, rangkaian materi di festival benar-benar komplit dan menyeluruh. Dimulai dari materi pernikahan dan parenting pada dua sesi pertama dan dilanjutkan dengan kesehatan dan perencanaan keuangan di dua sesi selanjutnya. Empat sesi awal ini dirancang untuk dijadikan dasar dari kesuksesan. Baru kemudian di sesi selanjutnya dibahas ttg jalan ke...