Mengutip cara Bu Septi dalam memandirikan anaknya dalam hal membereskan mainan mengotakkan mainan menjadi alah satu poin penting. Apa maksudnya mengotakkan mainan? Maksudnya mainan disimpan ke kotak-kotak (atau toples) mainan. Tiap kotak dapat dimainkan ketika tak ada kotak mainan yang terbuka dan kosong. Jika anak ingin memainkan mainan di kotak lain maka Ia perlu mengembalikan dulu mainan yang sebelumnya Ia gunakan.
Tak ada penjelasan lebih lanjut terkait kategorisasi tiap kotak mainan yang diterapkan Bu Septi. Jadi rasanya menarik jika 1 kotak mainan berasal dari kategori yang berbeda. Misal, 1 kotak berisi lego dan boneka atau pensil warna. Siapa tahu dengan dicampurnya kategorisasi itu menjadikannya lebih kreatif memainkan mainan dalam 1 kotak mainan itu.
Apakah sudah dicoba mengotakkan mainan dengan tema yang berbeda? Jujur belum. Bahkan mengotakkan mainannya pun belum. Saat ini mainan dan buku hanya disimpan di rak dan excel dan sekitar kedua tempat itu. Tak berkotak namun masih di area yang sama. Kondisi ini memang tak ideal untuk menerapkan 1 kotak mainan dalam 1 waktu. Namun, kondisi ini masih relevan untuk menerapkan 1 paket mainan dalam 1 waktu. Misal main lego saja.
Semoga ke depan kami bisa memberi wadah tiap mainan dan mengayakan kategorisasinya. Agar anak-anak kami belajar untuk berpikir kreatif dalam memainkan mainannya..
“Saat kalian bekerja nanti tetap jaga idealisme kalian” Begitulah kira-kira kata yang sering terdengar dari dosen maupun teman-teman mahasiswa yang lain, Jaga Idealisme. Entah dipahami atau tidak, kata-kata itu seolah menjadi kata mujarab bagi mahasiswa. Idealisme jika diartikan secara bahasa berasal dari dua kata yaitu ideal dan isme (paham). Idealisme memiliki tiga arti pada kbbi, namun untuk bahasan ini saya rasa definisi berikut lebih pas. Idealisme adalah hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yg dianggap sempurna. Jadi dengan kata lain idealisme sangat erat kaitannya dengan arti ideal bagi tiap mahasiswa.
Comments
Post a Comment