Setelah hari sebelumnya Ia keukeuh ingin cuci piring. Hari ini dia masih dengan kekeukeuhannya. Sebelum bundanya mulai melarang, Ia sudah berdiri di dekat sink dan menarik laci tangganya sendiri. Tanpa lama berpikir Ia menaiki tangganya dan mulai memilah mana yang Ia bisa cuci sendiri. Sebelum agenda mencuci berakhir dengan baju yang basah saya pun membatasai sink dan dirinya dengan lap. Fungsinya agar air yang terbawa dari keran melalui tangannya terserap lap yang saya simpan di 'keramik perbatasan' antara Ia dan sink.
Agenda cuci piringnya tak lama, karena memang saat itu tersisa sedikit cucian piring. Sebagian di antaranya memang termasuk yang bisa Ia taklukkan. Setelah puas mencuci piring Ia kembali bermain seperti sedia kala. Sebelum Ia bermain saya sempatkan bertanya keadaan bajunya. Basahkah? Alhamdulillah hanya terciprat sedikit. Menyimpan lap di perbatasan nampaknya cukup efektif.
Alhamdulillah.. Menyediakan tangga untuknya membuat Ia makin semangat mencuci piring.
Satu hari di bulan Agustus kemarin menjadi pengalaman perdana keluar rumah sejak dini hari dan kembali saat orang rumah sudah terlelap. Semua ini akibat dari sebuah acara spesial di Jakarta. Mengapa spesial? Karena di hari itu aku mendapatkan materi multi bidang namun satu tujuan, yaitu ‘Sukses Mulia’. Ada yang tak kenal dua kata ini? Hmm.., baiklah akan aku jelaskan (seperti yang pernah dijelaskan oleh saudariku), dua kata itu adakah jargon yang diperkenalkan oleh Bapak Jamil Azzaini. Maksud dari kata ini adalah sukses itu bukan hanya berdampak pada diri dan keluarganya tapi juga pada orang lain yang ada di sekitarnya. Demi memfasilitasi jargon ini, rangkaian materi di festival benar-benar komplit dan menyeluruh. Dimulai dari materi pernikahan dan parenting pada dua sesi pertama dan dilanjutkan dengan kesehatan dan perencanaan keuangan di dua sesi selanjutnya. Empat sesi awal ini dirancang untuk dijadikan dasar dari kesuksesan. Baru kemudian di sesi selanjutnya dibahas ttg jalan ke...
Comments
Post a Comment