Bercerita tentang apa yang ada dibalik cerita tantangan kemandirian pernah muncul di beberapa post tentang tantangan itu sendiri. Menjelang tantangan kemandirian, subjek awal kemandirian yaitu anak pertama kami qadarullah masuk rumah sakit. Setelah 2 malam di rumah sakit akhirnya Ia boleh pulang. Pada awalnya saya tak ingin menjadikannya alasan untuk tidak memulai tantangan. Namun, fokus saya terpecah, terlebih beberapa hari kemudian ayahnya harus dinas ke luar kota. Walhasil tak ada teman berbagi peran untuk mengawasi Sulung selama masa pemulihannya.
Seminggu setelah keluar rumah sakit akhirnya Sulung mulai tak betah jika tak aktif beraktivitas seperti sediakala. Meski masih dibatasi pergerakannya untuk hal-hal ringan dalam kerangka membantu bundanya saya pada akhirnya membiarkannya. Lama kelamaan banyak aktivitas yang dulu masih sebatas pengenalan kemandirian mulai ia kerjakan. Meski masih belum konsisten.
Batas minimum 10 hari tantangan akhirnya terlewati. Banyak yang perlu dievaluasi karena Bundanya masih menerka-nerka metode yang tepat memandirikan Si Sulung. Dalam pengamatan bundanya sejak Ia punya adik Ia seringkali caper dengan cara ingin dibantu segala yang dikerjakannya..
“Saat kalian bekerja nanti tetap jaga idealisme kalian” Begitulah kira-kira kata yang sering terdengar dari dosen maupun teman-teman mahasiswa yang lain, Jaga Idealisme. Entah dipahami atau tidak, kata-kata itu seolah menjadi kata mujarab bagi mahasiswa. Idealisme jika diartikan secara bahasa berasal dari dua kata yaitu ideal dan isme (paham). Idealisme memiliki tiga arti pada kbbi, namun untuk bahasan ini saya rasa definisi berikut lebih pas. Idealisme adalah hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yg dianggap sempurna. Jadi dengan kata lain idealisme sangat erat kaitannya dengan arti ideal bagi tiap mahasiswa.
Comments
Post a Comment